Mencari Jalan Pulang Menuju Ilmu Pengetahuan

17/01/2014 § Tinggalkan komentar

Skripsi yang sejatinya merupakan hasil laporan penelitian yang dikerjakan pada akhir jenjang sebagai karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, nyatanya sudah dikomodifikasi sedemikian rupa. Skripsi dengan mudahnya dijajakan, dibeli, dan didaur ulang di banyak tempat. Pangsa pasarnya besar, mulai dari mahasiswa yang merasa malas atau tidak sanggup mengerjakan skripsi hingga orang-orang yang mengejar gelar demi kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan dan limpahan gengsi. Hal ini cukup digambarkan pada artikel Kompas yang ditulis Irene Sarwindanigrum, Meraih Gelar dengan Skripsi Pesanan (19/2/2010).

Dalam salah satu kutipan yang terdapat di artikel, Rht, salah seorang penyedia jasa pembuatan skripsi yang namanya telah disamarkan, menyatakan telah 10 tahun lamanya menjalani bisnis jasa pembuatan skripsi, dan belum ada satupun skripsi yang tidak lolos. ‘Kesuksesan’ bisnis ini tak hanya dirasakan oleh Rht, tetapi juga pemilik bisnis serupa yang tersebar di berbagai kota. Ini patut dicurigai atas pertimbangan dua hal. Pertama, melihat keberhasilannya, bisa kita simpulkan bahwa kualitas skripsi yang dibuat melalui jasa pembuatan ini memenuhi tuntutan akademis, layak, dan bagus hasilnya. Maka dapat kita asumsikan bahwa yang menjalani bisnis ini adalah kumpulan orang-orang yang berpendidikan, memiliki kapasitas akademik yang cukup, dan menguasai banyak bidang ilmu. Artinya, banyak orang pandai di negeri ini yang justru memanfaatkan kemampuan otaknya demi menjalankan bisnis yang melanggar etika pendidikan. Asumsi kedua adalah, orang-orang yang berada di bisnis jasa penyediaan skripsi ini memiliki kerja yang rapi, meski secara kualitas hasilnya tidak istimewa, namun pembimbing dan tim penguji skripsinya yang tidak teliti. Apakah pembimbing dan penguji skripsi mereka tidak cermat dengan skripsi palsu ajuan mahasiswa? Atau kah mereka tidak serius dalam menangani skripsi mahasiswa sehingga mengesampingkan kualitasnya?

Bisnis jasa pembuatan skripsi bukanlah barang baru. Ini sudah berlangsung lama dan terus menerus. Jika merujuk pada artikel yang sama, belasan tahun sudah lamanya ia menghiasi sudut-sudut ranah akademik perguruan tinggi di Indonesia. Maka dapat diperkirakan bisnis ini baru ramai tersingkap oleh media sejak reformasi berlangsung. Hal ini, bagi saya, bisa diasumsikan terjadi karena dua penyebab. Satu, bisnis ini baru muncul paska Orde Baru, ketika orang-orang berusaha menuntaskan pendidikan tinggi demi meraih gelar yang dapat membantunya secara prosedural untuk menduduki jabatan-jabatan yang ada di pemerintahan (karena Orba kental dengan nepotisme, dulu lebih sulit untuk mendapatkan jabatan bila tidak “berteman”). Jasa pembuatan skripsi ini tentu muncul karena ada permintaan yang datang dari masyarakat dalam memenuhi tuntutan akademis dan mengejar gelar-gelar berderet secara instan. Melihat perkembangannya, bisa disimpulkan bahwa permintaan yang muncul tidak sedikit. Maka timbul berbagai penawaran di banyak tempat yang membuat orang semakin mudah mendapatkan akses kepada agen-agen yang bisa membantu mereka mensukseskan ide-ide palsu demi karya yang minim kebermanfaatan. Informasi mengenai adanya jasa penyediaan skripsi ini menyebar luas – bahkan dapat diketahui dari iklan di surat kabar – sehingga mahasiswa-mahasiswa malas yang memiliki uang saku berlebih bisa dengan mudah menggunakan jasa ini pula. Kedua, kebutuhan atas pendidikan yang tinggi baru muncul ketika globalisasi semakin meluas dan mengakar, sehingga lulus sekolah menengah atau strata satu saja tidak cukup untuk dapat bersaing di dunia global seperti sekarang ini. Orang butuh memperbaharui tingkat pendidikan akhirnya di curriculum vitae dan beberapa lembar ijazah supaya bisa eksis di bidang pekerjaan yang ia inginkan.

Tak hanya mahasiswa, para dosen, profesor, bahkan guru besar ditemui tertangkap tangan
« Read the rest of this entry »

Iklan

Payung Baru, tapi kok Bocor?

30/09/2012 § 1 Komentar

Di dalam ranah pendidikan Indonesia tidak hanya seleksi akademik yang kuat terasa, tapi juga seleksi finansial dan munculnya penggolongan kaum marginal akibat eksklusi sosial. Memiliki kompetensi yang memadai untuk melanjutkan jenjang pendidikan tidaklah cukup, biaya pun diperlukan dan jumlahnya tidak sedikit. Segelintir orang yang kurang mampu mungkin memiliki kesempatan melanjutkan sekolah berkat sokongan dana dari pihak pemerintah ataupun pihak swasta, namun pada prosesnya akan menjadi kaum minoritas akibat adanya eksklusi sosial yang tumbuh subur dalam setiap lembaga di Indonesia, tak terkecuali lembaga pendidikan.

Nelson Mandela pernah berkata bahwa pendidikan adalah senjata paling dahsyat yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia. Tapi sebaris frasa itu seakan menjadi utopia di kalangan menengah ke bawah di Indonesia. Jangankan dunia, masih banyak orang yang tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan dan kehilangan asa untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga. Meskipun dalam pasal Pasal 31 UUD 1945 ayat (1) telah disebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

Pendidikan sejatinya dapat membebaskan seseorang dari kebodohan dan kemiskinan. Dilihat dari tataran sosiologis, pendidikan berfungsi sebagai salah satu alat mobilitas sosial vertikal yang paling utama. Maka ketika pendidikan dapat diakses oleh seluruh warga negara, korelasinya dapat menghasilkan masyarakat yang terbebas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan sehingga menjadikan pembangunan negara membaik secara multidimensional. Faktanya aksesibilitas rakyat terhadap pendidikan masih belum merata, sehingga rantai kebodohan dan kemiskinan tidak dapat diputus. Keadaan ini menjelma lingkaran setan yang tak berujung.

Pendidikan merupakan salah satu hak azasi manusia sebagaimana tercantum dalam Universal Declaration of Human Rights 1948 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Dalam internasional covenant ekosob pada pasal 13 ayat 2c, dijelaskan pula bahwa: “Pendidikan tinggi juga harus tersedia bagi semua orang secara merata atas dasar kemampuan, dengan segala cara yang layak, khususnya melalui pengadaan pendidikan cuma-cuma secara bertahap.”

Indonesia masih belum bisa menyediakan pengadaan pendidikan bertahap secara cuma-cuma. Realita menunjukkan, rakyat yang dapat melanjutkan pendidikan jelas orang yang punya semangat dan berotak cerdas, juga orang-orang yang memiliki kemampuan finansial memadai. Banyak yang harus rela tersingkir di tingkat pendidikan dasar dan menengah akibat seleksi finansial. Lantas bagaimana bisa mengeyam pendidikan tinggi yang disebut-sebut mengeluarkan dana yang tidak sedikit, bahkan terbilang mahal?

« Read the rest of this entry »

Indonesian Television: When The Impression of God Trapped in Media Industry

15/08/2012 § 1 Komentar

We are in the middle of a holy month for Islam people, Ramadhan, a month of blessings, prayers, and getting closer to Allah, in order to regain pureness. In this month, the nuance of Islam is very much existing, starting from fasting, charity act, and transcendent relationship with God–also with human.

Media is filled with Islam-themed in Ramadhan — in radio, we can find special segments, whether its extra sermons or even radio play. In internet there are lots of apps designed for Ramadhan as well as news everyday. While in TV, we see bunch of programs — sahur, iftar, and series.

As an industry, television always tries to react immediately to demand of market and current issues. In this fasting month, every stations are competing to broadcast its best Islam-themed programs to be watched by Indonesian people, especially during the prime time of sahur and iftar. Viewers just have to choose their own programs, by their own favor.

In creating programs, each has their own vision and mission — between one and another there is always different purpose. Say, one might really want to improve viewer’s faith, while others just stress on the formal aspects for its program to be more commercial.

We can see that every TV stations are competing to win the best impression of God. This is a noble will, but will it really affect Indonesian viewers in a good way?

For example, Para Pencari Tuhan series. This series was made by Dedy Mizwar to tackle facts and issues around Islam in our society — lots of scenes and quotes can be found of that issue. In 2012, PPT was in the top rating of Ramadhan programs (via @PekerjaTV). It means that it is the most-watched program. Theoritically speaking, this should bring people to better ways in moral aspects — after all, this series has been playing for six seasons. But somehow, even after watching all the series, it doesn’t mean the viewers are getting better in the following months.

The impression of God in television has become a new way for the industry to gain the maximum profit. Seasonal situation like this Ramadhan can be the right momentum to produce interesting Islam programs. It turns out that television, which is useful as an idea-spreading media, can’t actually bring out real change in society. Instead of bringing out the substance of divinity, it just creates a mere impression. Capitalism in television as an industry creature somehow just never aims at long-term effects of its programs. Spirituality and impression of God are just not strong enough to face other ideas.

[Essai ringan mengenai situasi nasional untuk tugas KPMB FISIP UI 2012.]

Bahasa Ibu: Bahasa Nomor Sekian (Yang Mungkin Tidak Masuk Hitungan)

26/05/2012 § 1 Komentar

Saya punya seorang kawan yang tinggal di Mojokerto. Kami cukup sering berkirim pesan singkat untuk sekadar mengobrol atau berdiskusi hal-hal kecil. Awal-awal sms-an, dia suka sekali menggunakan bahasa Jawa, yang notabene tidak saya mengerti. Saya berkali-kali bilang padanya, kalau saya tidak mengerti bahasa Jawa. Suatu ketika dia bilang:

“Ah kamu ini bagaimana lho. Tinggal di pulau Jawa tapi tidak mengerti bahasa Jawa.”

Waktu baca sms itu, kalau anak muda zaman sekarang bilang, rasanya jleb. Saya merasa terpojok. Benar juga. Saya tinggal di pulau Jawa—sebuah pulau dengan kepadatan penduduk paling tinggi di Indonesia—tapi saya tidak mengerti bahasa Jawa. Bahkan sebenarnya saya ada keturunan Jawa dari alm. Bapak saya, tapi dulu tidak pernah tertarik untuk mempelajari bahasanya. Seperti ada rasa out-group feelings dengan bahasa Jawa.

Tapi bukan berarti saya tidak suka mempelajari bahasa. Saya sangat suka belajar Bahasa Indonesia, tapi belum pernah benar-benar belajar “bahasa ibu”. Belajar bahasa Melayu Riau dari Ibu saya saja masih jarang, pengucapannya masih sering terpeleset. Kalau ditanya bagaimana penguasaaan saya dalam bahasa asing, jawabannya juga masih belepotan. Jadinya, berbahasa ibu tidak bisa, berbahasa Indonesia juga belum cakep-cakep banget, bahasa asing masih acak-acakan. Tapi kasus seperti ini tidak menimpa diri saya saja agaknya, tapi juga kebanyakan orang, iya kan?

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Esai category at Elastisitas Kata.