Tentang Kopi, Rokok, dan Alkohol

05/02/2014 § Tinggalkan komentar

Aku tidak minum kopi. Tidak merokok. Tidak mengonsumsi alkohol.

Beberapa teman bilang aku begitu malang, yang lainnya tuduh aku mudah patah arang.

« Read the rest of this entry »

Dengan Ini, Kembali ke Arena

01/09/2013 § Tinggalkan komentar

Kemarin, sekitar pukul 2 siang, Faris Muhammad Hanif – yang lebih akrab disapa Kodel – menghampiri saya yang tengah berdialog santai dengan sekelompok teman di Takor.

“Din, ngobrol dulu yuk. Bentar.”

Saya meninggalkan teman-teman semeja, dan duduk bersama Kodel di dua kursi panjang yang berhadapan. Kodel menyampaikan banyak hal dengan kalimat yang mengalir dengan lincah – entah telah disusun rapi sebelumnya atau terucap serta merta begitu saja. Segala mimik dan gerak tubuhnya mencoba untuk mengalirkan energi semangat kepada saya. Tubuhnya condong ke depan, kelopak matanya terbuka lebih lebar, gerak kedua tangannya memberi penekanan, nafasnya buru-memburu dengan setiap kata yang ia tumpahkan. Kali ini, antusiasme yang ia bawa, jauh lebih besar dibandingkan saat kami biasa berbincang sebelumnya.

Kodel membahas kondisi penulisan di kalangan mahasiswa – khususnya di kampus kami – sekarang ini. Betapa statis dibandingkan beberapa masa sebelumnya, ketika sebuah tulisan dapat memotori berbagai manuver progresif di antara mahasiswa dan dalam masyarakat. Ketika itu begitu banyak orang memiliki kesenangan melempar wacana yang kemudian berkembang jadi adu kuat-kuatan argumentasi serta pondasi pikiran yang dimiliki. Seolah menulis memang menjadi ajang yang semarak seperti berpesta – momen ketika orang pada dasarnya ingin bersenang-senang dan terlihat menarik di antara kerumunan yang ada. Meski kadang, muncul pertikaian antara satu dan lainnya jika tidak bijak dalam beretika.

Kalimat demi kalimat yang diutarakan olehnya bukan tanpa latar belakang, pun bukan tanpa maksud dan ajakan khusus. Dia tahu, dan saya juga sudah bercerita padanya dahulu, kalau saya sudah lama kehilangan semangat untuk menulis, utamanya menulis opini. Walau, dalam menulis jurnalistik, saya masih aktif dalam sembilan bulan terakhir. Pun dengan agak cengeng harus saya akui bahwa bara api saya dalam menulis sedang redup-redupnya, hingga orang tak menyadari keberadaannya. Tak ada yang dapat melihat percik ataupun nyala apinya, apalagi untuk bisa merasakan kehangatannya.

Saya sudah lama absen dan dirundungi ragu yang melumpuhkan. Menghilang dari arena bermain logika dan menghindari konflik dari perseturuan yang hampir pasti selalu muncul. Terakhir kali saya menulis, ujungnya terjadi kontroversi yang datang dari beberapa elitis, yang membuat saya terganggu dan sedikit gagu. Sejak saat itu, saya menulis dalam diam, bahkan lebih pas kalau dibilang bungkam. Sikap saya ini ternyata membenarkan salah satu yang dikatakan Teori Komunikasi ‘Symbolic-Interactionism,’ bahwa orang akan menghentikan pengiriman simbol tertentu jika dia merasa tidak nyaman.

« Read the rest of this entry »

Satu Gerakan?

26/08/2013 § Tinggalkan komentar

image

Ingat beberapa waktu lalu, ketika terjadi ribut-ribut yang disebabkan oleh penggusuran kios pedagang di stasiun KRL? Baik warga, pedagang, maupun mahasiswa, ikut turun untuk menolak rencana tersebut.

Di UI sendiri — yaitu di Stasiun Pondok Cina dan Universitas Indonesia — mahasiswanya berusaha jatuh bangun menghalau rencana PT. KAI. Yang paling ekstrem, di Stasiun Pondok Cina, mahasiswa dan warga sempat memblokir rel kereta yang akibatnya merugikan banyak masyarakat.

Massa yang dikerahkan saat usaha penggusuran di Stasiun Universitas Indonesia luar biasa banyaknya. Media menyiarkan setidaknya ada 1.000 aparat yang diturunkan (saya sendiri juga lihat dengan mata kepala saya). Mahasiswa UI jelas kalah jumlahnya.

Satu hal yang lucu saat aksi terjadi adalah tidak kompaknya teknis lapangan. Entah mengapa, semua turun tanpa makna yang jelas. Parahnya lagi tidak dalam kesatuan. Sempat saya bertanya pada dua orang, “Apa yang sedang kalian perjuangkan di sini? Untuk apa terus berada di sini? Toh sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi.” Jawabannya “Enggak tau juga sih. Ngapain ya kita masih di sini? Tanggung jawab lembaga aja.”

Sedih mendengarnya.

Di jalan utama depan UI, segerombolan mahasiswa bakar-bakaran. Di bagian atas, dekat pintu masuk stasiun, serombongan mahasiswa teatrikal dengan topeng di kepala. Tak seberapa jauh, selingkaran mahasiswa duduk-duduk di bawah pohon rindang seperti berpiknik. Saat saya lewat, sempat terdengar ucapan salah satu dari mereka: “Ayo, siapa lagi yang belum paham isunya? Lebih baik tanya sekarang daripada ikut turun tapi gak tahu apa-apa.” Beberapa lainnya berseliweran tanpa tujuan yang jelas.

Sementara itu, di balik sana sejumlah aparat terus saja menghancurkan kios tanpa ada kendala. Kebanyakan bahkan melakukannya sambil tertawa.

Seorang mahasiswa dari Jepang melintas di dekat saya. Dia berkata pada temannya: “Di sini, aksi protes seperti festival saja, ya.”

Tanpa manipulasi, saya pun turut mengamininya.

Catatan Tak Terungkap: Paruh Awal 2012

06/01/2013 § Tinggalkan komentar

2012

« Read the rest of this entry »

Hidup Mahasiswa?

02/01/2013 § 1 Komentar

DSC07595

“JANGAN HANYA TERIAK HIDUP MAHASISWA
BERTINDAK NYATA KAWAN
UNTUK KEMAJUAN INDONESIA”
—Solidaritas Penerus Bangsa—

30 September lalu, ketika mahasiswa FISIP melakukan aksi damai di bundaran HI dalam rangka menuntut visi pendidikan tinggi Indonesia yang ideal, sekelompok orang berbaju merah luput dari pandangan saya.

Saya baru menyadari kehadiran mereka ketika melihat foto-foto hasil tim dokumentasi. Ternyata ketika kami sedang melakukan aksi, ada beberapa orang dari kelompok asing melipir ke dalam barisan kami.

30 September 2012. Bundaran HI.

30 September 2012. Bundaran HI.

Saya ingat ketika itu ada senior yang masuk ke mimbar bebas dan bilang kalau kita cukup tenang saja melihat segerombolan itu. Jujur saya tidak melihat orang-orang berkalungkan “quotes” saat itu, mungkin karena ada begitu banyak orang sehingga mereka tertutupi.

“Tadi ada kawan-kawan yang bilang ‘jangan hanya teriak hidup mahasiswa, bertindak nyata kawan untuk kemajuan Indonesia.’” Ucapnya memulai orasi.

“Aksi damai yang kita lakukan sekarang ini adalah sebagai bentuk pre-event dari Simposium Nasional Pendidikan Tinggi yang akan diadakan tanggal 7-11 Oktober di FISIP UI. Kami akan merumuskan permasalahan pendidikan tinggi di Indonesia dan mendeklarasikan rumusan visi pendidikan tinggi Indonesia yang ideal,” lanjutnya.

Singkatnya, senior saya itu mau bilang kalau orang-orang berjaket kuning ini sedari tadi tidak hanya teriak kosong Hidup Mahasiswa, tapi akan melakukan tindakan real demi menangani kebobrokan pendidikan tinggi Indonesia.

Kini Simposium Nasional Pendidikan Tinggi sudah berlalu. Rumusan visi dan tuntutan pendidikan tinggi Indonesia yang dianggap ideal oleh mahasiswa sudah dideklarasikan pada 11 Oktober 2012 di Aula Terapung Perpustakaan Pusat UI.

Tapi, mana kemajuan yang dihasilkan?

Saya ingat ketika evaluasi terakhir, Project Officer acara Simposium Nasional Pendidikan Tinggi mengatakan bahwa acara ini, yang pada awalnya menghadapi banyak kendala dan ancaman kegagalan, akhirnya bisa berlangsung dan selesai dengan penilaian ‘cukup berhasil’.

Sampai saat ini saya masih memikirkan arti kata ‘berhasil’ yang ia ucapkan. Mungkin indikator-indikator yang ditulis di atas kertas ketika perencanaan acara ini dibuat sudah tercapai.

Apakah rakyat Indonesia merasakan keberhasilannya? Setidaknya, menyadarinya?

Hasil deklarasi tidak hanya berakhir di acara itu saja. Sejauh ini kami masih menempuh jalan diskusi. Tim materi mem-follow up hasil Simposium Nasional Pendidikan Tinggi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Sudah sejauh mana hasil follow up yang diupayakan?
Belum ada yang bisa menjawab dengan jelas dan pasti.

***

Saya rasa makna yang coba dikemukakan kelompok ‘Solidaritas Penerus Bangsa’ sudah cukup untuk membuat kita sebagai mahasiswa berpikir. Ya, mahasiswa di perguruan manapun.

Berpikir. Merenung. Dijadikan bahan refleksi.

Sudah sejauh mana perjuangan dan pengabdian yang kita lakukan untuk bangsa Indonesia? Untuk rakyat Indonesia yang uangnya digunakan untuk membiayai kuliah kita? Untuk masyarakat sekitar atau tempat dimana kita tinggal?

Seberapa besar kita menebar manfaat bagi kehidupan yang nyata, di luar ambisi kita untuk memenuhi lembar curriculum vitae, mendapat gaji besar, atau sekadar mengejar target program kerja?

Apakah saya sudah berjuang tanpa memikirkan eksistensi atau popularitas apa yang akan didapat? Apakah saya telah berkorban tanpa memikirkan pamrih mengenai seberapa besar nilai yang akan kembali kepada diri ini?

Hal ini kiranya dapat kita pikirkan masing-masing.
Tanpa perlu banyak retorika.

Hidup mahasiswa?

Berpesta Ala Kadarnya

25/12/2012 § Tinggalkan komentar

FISIP

                Siang itu isi selasar Gedung C ngos-ngosan. Sengitnya kompetisi calon ketua dan wakil ketua BEM FISIP dalam mengumpulkan suara tampak jelas dari tally yang ditulis oleh Hikmah, salah satu anggota KPR. Jumlahnya kejar-kejaran, meleng sedikit dari papan jumlahnya sudah mirip-mirip lagi. Saya sebagai seorang warga kampus yang punya hak suara hanya bisa bengong menatap jumlah suara para calon. Total suara untuk empat hari pemungutan pertama hanya selisih satu suara. Panwasra sampai terlonjak histeris.

                Beberapa gepok kertas suara ditumpahkan. Tinggal menghitung suara hari terakhir pemungutan dan pemenangnya akan terungkap. Kejar-kejaran suara masih berlanjut. Sampai pada akhirnya….

                Hanif – Ghana menang dengan hanya selisih 3 suara dari pasangan Fadil – Mizan. Para supporter masing-masing calon mengekspresikan kegemasan mereka atas interval suara ini. Para calon berpelukan satu sama lain. Saya lihat air mata mengalir dari pelupuk mata Hanif.

                599 vs 596. Abstain 13. Tidak Sah 67. Beginilah hasil demokrasi FISIP yang seadanya. Jumlah DPT mencapai beribu-ribu tapi yang merasa konstituen hanya 1275. Padahal jumlah angkatan 2012 saja ada 1077.

                Bisik-bisik mengenai tarbiyah yang akan kembali merajai FISIP setelah lima tahun terakhir dipimpin oleh ‘kafir quraisy’ (istilah yang dibuat oleh sekelompok orang) kembali terdengar di ranah FISIP, utamanya di kalangan elit-elit politik. Yang mendukung pihak Fadil – Mizan tapi tidak nyontreng, dirasa akan menyesal. Mengenai tarbiyah-tarbiyahan, saya sendiri tidak begitu mengerti apa bahaya yang akan mereka bawa. Isu pemimpin agamis memang agak sensitif di kampus ini.

                Terlepas dari apapun itu yang kini tengah menjadi bisik-bisik di antara warga FISIP, proses panjang Pemira FISIP 2012 yang terhitung paling lama di antara fakultas yang lainnya akhirnya mencapai hasil yang cukup memuaskan. Beda tiga suara, eh? Ini sejarah baru.

KPR bernafas lega. Untungnya jumlah suara masing-masing calon tidak sama, bisa-bisa pemungutan suara terpaksa digelar sekali lagi.

                Pertanyaannya, kenapa Pemira FISIP jadi Pemira yang paling lama? Kenapa di saat fakultas lain secara beruntun sudah berganti estafet kepemimpinan, FISIP masih dengan Affin dan Reza?

   
« Read the rest of this entry »

Penyadaran Kembali

13/12/2012 § Tinggalkan komentar

Ingatlah bahwa kebenaran itu bisa ada di tempat-tepat yang tidak kita sukai.
– Arif Zulkifli, Redaktur Eksekutif Majalah Tempo

Sebaris kalimat itu menyadarkan saya yang selama ini terperangkap dalam prejudicedan terlalu cepat menjagal sesuatu.

Masuklah. Buang prejudice.

Ia menyadarkan saya bahwa untuk menjadi wartawan yang baik harusnya dapat keluar dari prasangka, dan berani turun ke segala lingkungan untuk menemukan kebenaran.

Anda akan keluar dari prejudice itu. Itulah keindahan menjadi wartawan.

Where Am I?

You are currently browsing the Empiris category at Elastisitas Kata.