Cinta yang Tidak Presisi

24/02/2014 § Tinggalkan komentar

Bagaimana manusia bisa tertarik satu sama lain, jika tidak ada jiwa?

Jiwa adalah hal imaterialistik, yang kemudian diberi penafsiran biar seolah materialistik.

Dalam jejak kehidupan ini, manusia membuat konsep yang dinamakan cinta.

Cinta termasuk hal yang imaterialistik, yang tak terlihat dan tak tersentuh. Tak terukur.

Yang bisa kita amati hanyalah gejala dan penampakan dari cinta.

Itu sebabnya kita manusia sering kali menuntut bukti dari adanya cinta.

Seperti yang tengah berlangsung sekarang ini

Bagaimana aku bisa mengetahui kau cinta, jika kau diam saja?

Yang imaterialistik bisa dimaterialisasikan melalui bahasa

Dengan bahasamu itu pula aku gagal paham, sebab bahasa yang kau gunakan kepadaku bernada apa yang dikonsepkan masyarakat sebagai marah, kesal, bahkan benci

Ini distorsi komunikasi!

Untuk menjaga kemurnian cinta – bila benar kau memang ada rasa – aku perlu tulisan, perlu bukti. Biar bisa ditafsirkan oleh nona yang menanti di sini.

Tapi, memangnya tafsir itu saklek?

Jika kau ingat Hermeneutika soal konsep tafsir teks, kau akan sadar bahwa penafsiran itu dinamis…

Bicara tentang penafsiran, kita harus melongok tradisi relasi masing-masing dan konteks yang tengah berlangsung di antara kita!

Ketika kamu tak bisa mengkontekstualisasikan perasaanmu dalam keadaan kini, maka kamu akan ditinggalkan..

Ingatlah bahwa perasaan ini bergerak dari pengalaman kita yang sangat berbeda

Antara aku dan kamu, ternyata, tak satu makna

Mungkin rahim cinta kita cenderung bersifat abortif

Sel jantanmu dan sel betinaku yang bagus, cenderung luruh bila kita coba persatukan

Apakah distorsi ini, adalah persoalan rahim, soal ruang, soal locus?

Bahwa rahim yang memelihara cinta kita bersifat destruktif dan abortif

Lantas apa yang harus kita lakukan bila gejala, penampakan, konteks, bahasa, tulisan, tradisi, dan empirisme tak menghasilkan kesatuan di antara kita?

Mungkinkah bila cinta ini rupanya hanya eskapisme…

Bila ada yang mendominasi, maka konteks pembebasan rasa dari rahim ini semakin sempit

Cinta ini, manisku, harusnya bersifat dialektis, dan historis.

Beji 2422014

20:59

(Aku menyadari banyak yang rancu. Hatiku sedang bergejolak, meracau tanpa ada sebab)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cinta yang Tidak Presisi at Elastisitas Kata.

meta

%d blogger menyukai ini: