Surat Cinta untuk Refisca

09/02/2014 § Tinggalkan komentar

Tahun kedelapanbelas kau menapak,

Kisahmu seperti rintik hujan sore ini: gelisah dan tak tentu arah. Yang dihembuskan angin dan jatuh menerpa jendela rumah-rumah. Membentuk embun dan menjadi selimut dalam kabut.

Kau rasakan dinginnya lantai dengan telapak kaki yang berkedut

Lalu melenggang, menari gemulai ke arah sembarang

Tak ada irama pasti dalam lakon dan tarimu

Kau hentikan tari dan bercermin di bawah lampu

Sudah ada garis-garis linang air mata yang meliuk di pipi

Bergerai lembut di bawah matamu yang bulat

Membuat luntur bedak tabur yang kau sepuh sore tadi

Wajahmu kini basah dan berkeringat

Begitu juga punggung dan sekujur kakimu

Dan matamu, meski enggan, tetap bersikeras menatap

Terawang matamu, entah, memancarkan binar atau sedang menatap nanar

Dalam getir yang menjadi remuk, bibirmu menahan gemetar

Delapanbelas tahun kau menjejak,

Bukan masalah lamanya desah dan perih yang kau basuh sambil merintih

Yang ada di depan justru menjadi serapah dan gelisah

Perlahan menumpuk jadi amarah

Karena cinta seakan racun dan dengki bubarkan nafsu

Percayalah, tarimu mampu bebaskan luka

Suatu saat nanti, bila ragamu dipasung bumi, dalam hati kau akan terus menari

Selamat menghidupi dunia simulacra.

(Selamat ulang tahun, Refisca Anggia Sisvari)

7 Februari 2014

Dinda Larasati

Iklan

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat Cinta untuk Refisca at Elastisitas Kata.

meta

%d blogger menyukai ini: