Kalkir

07/02/2014 § Tinggalkan komentar

Catatan Proses:

Aku, Tina, dan Puput mengerjakan ini tanpa diskusi dan bergantian. Kami memulainya di Kedai Lentera sambil menikmati Malam Puisi, kemudian terputus karena malam sudah menjelma dini hari dan mengharuskan kami pulang. Cerpen ini kemudian diselesaikan di dalam kamarku, saat Tina menginap sehabis kami jalan-jalan.

Sebuah karya kolaborasi yang kami buat untuk SumatraSuma Arisan Sastra – edisi satu. Kami memberinya judul: Kalkir.

———————————————————

Dari sudut ruangan yang remang, kudengar langkah-langkah tergesa di sekitarku. Keremangan menjelma kegelapan dan suara berdebum terdengar dari kejauhan yang tak terjangkau. Bisa saja aku menjangkaunya. Tapi aku tak mau. Aku mau diam saja dengan senja tenang yang tak meminta apa-apa. Senja yang mengajarkan keikhlasan dan kehilangan. Aku mau seperti puisi tak berima, yang berjingkat dalam benak pembaca.

“Siapa di sana?” teriakku pada kegelapan. Tak mengharap jawaban.

Gelap mendekapku dan menghantarkan dingin yang menggigit penat. Aku tercekat. Ada sorot mata yang menusuk dari kejauhan. Kejauhan yang dekat bila kuhampiri. Yang kali ini kudiamkan untuk menyendiri dan menutup pintu. Namun pintu itu digedor sedemikian rupa, dinding seakan ikut didobrak.

Kegelapan ah kegelapan. Dingin begitu nikmat menyengat. Menumpas panas dengan beringas. Kegelapan dan rasa dingin ini, membuat aku merasa semakin sendiri. Aku kesepian.

Barangkali, suara yang terdengar dari kejauhan tadi hanyalah gemuruh isi hatiku yang meraung dan menggaung. Sudahlah. Diberi waktu buat meyandu malam saja aku sudah bisa bahagia. Bahagia untuk terdengarnya suara lirih, suara kedap pada terang siang.

Tunggu. Bicara apa aku tadi? Kegelapan? Kesendirian? Kesepian? Kebahagiaan? Seperti ketidakkonsistenan cerita yang ditulis penemu bahasa. Seperti meloncat tanpa aba-aba.

Aku terjerembab di depan lemari tua. Gemetar menunggu kegelapan masuk ke ruangan tempat aku sendiri mengharap mati.

Aku merangkak ke tengah ruangan dengan gemetar, menyeret beberapa lembar yang tercecer di lantai dengan kaki kurusku. Ceceran berisikan berita lalu, kususun jadi satu. Tersadar tiada pahit detik pembawa jeda, sunyi yang tiada sepi malam ini. Sementara aku sibuk menyusun ceceran kertas-kertas kusam, pintu terkuak menantang. Kutemukan sosok kegelapan. Jantungku seperti berhenti 5 detik. 5 detik kematian, aku bilang. Ayah!

“Ibumu mati.”

Mau apa aku mendengarnya. Aku sudah tahu kegelapan itu bisa berteriak lebih kejam lagi. Bahagiaku masih bersisa. Tak kuhiraukan ucapan Ayah. Sosok kegelapan itu memberi kabar baik. Ibu mati. Ujung bibirku keduanya mau tak mau naik sesenti. Ah, Ibu. Akhirnya mati menghampirimu. Tak ada nikmat yang paling khidmat selain mati. Kegelapan di sekujur ruangan seolah terbang menghilang.

Kutatap lamat-lamat kertas kalkir yang masih baru. Kubuka gulungannya. Sesosok perempuan muda dengan kacamata tebal berdiri sambil merangkul sosok diriku dalam latar rumah berpekarangan sederhana berumput kelabu. Sorot matanya dengki bernanar, dibingkai dengan gurat-gurat putus asa dan lengkungan bibir yang mencibir. Sementara aku, tersenyum manis dengan mata yang berbinar. Tak ada Ayah dalam kertas itu.

Kukecup mesra kertas kalkir bersketsakan aku dan Ibu. Lalu, bersisa noda merah. Darah. Ayah!

***

Seperti biasa, aku duduk menyelami suara hujan dengan jendela membuka. Seperti biasa juga, masih aku terjaga di tengah waktu yang hampir tanpa suara. Menulis. Menulis kenangan-kenangan yang sulit kuingat tanpa kawan bernama hujan dan malam.

“Giliranmu nanti malam,” Ibu membelai sayang.

Tanganku berhenti menuliskan memori sendu. Kutatap mata ibuku dan tak kuhentikan belaian tangannya yang mulai turun ke bagian pangkal pahaku. Tak ada lagi tatapan sayang di matanya, melainkan nafsu dengan nafas yang memburu.

Seperti biasa pula, ada tetes-tetes mulai membanjiri. Luar dalam. Ingin ku berteriak dan sudah kulakukan. Ku berteriak dalam hati saja. Nikmati saja… nikmati saja. Giliranmu malam ini dan kamu butuh pemicu untuk memacu. Mataku memejam, nafasku mengejan. Tanganku mengepal tapi menahan sekuat tenaga. Aku mulai menyerah dan berserah padanya.

Suara hujan di luar mulai mereda. Namun, angin yang terhembus dari jendela menjadi semakin kencang hingga menggoyangkan lampu gantung berbentuk lentera. Ada atmosfer yang mengancam… ada penasaran yang rasanya menggelikan… Tanpa kuharap, tangan ibu berhenti menggerayang. Suara ketuk di pintu membuyarkan konsentrasi ibu. Lentera pun diam tak bergoyang. Aku menahan nafas. Padahal surga sudah di depan mata.

“Aku akan kembali.” Ibu lalu ngeloyor pergi dengan janji. Aku masih terpaku dengan nafas satu-satu.

Kutatap pintu yang tertutup di balik tubuhnya yang menghilang. Aroma tubuhnya membekas di kulit tubuhku. Kuhirup dalam-dalam, degup jantungku jadi tak tenang. Jiwa dan tubuhku terasa tidak menyatu. Terbayang. Terbayang. Seakan-akan selalu terbayang sampai aku mati. Sebuah nikmat tanpa cahaya. Kelam.

Pena kembali kugenggam. Kucoba untuk menerjemahkan kejadian barusan ke dalam kata-kata. Percuma! Mengapa aku tak bisa melabeli rasa yang baru saja terjadi? Kelimbunganku yang belum juga rampung diusik dengan dering ponsel yang terlalu nyaring. Ah, mau pecah kepala dan hatiku bersamaan. Darah masih mengalir kencang seakan mau putus nadiku.

Aku terdiam sedemikian lama sehingga dering nyaring itu menyerah juga. Kulirik layar ponselku. Ayah!

Ayah, ayah.. Sekian kalinya kau memanggil tanpa niatan penuh. Selalu saja panggilanmu tak pernah benar-benar terhubung. Entah kau hanya iseng atau malu-malu. Aku bosan dipermainkan. Kumatikan ponselku dan kukantongi di celana, lalu berdiri di depan cermin. Menatap wajahku sendiri, menerka arti guratan dan tetes-tetes yang masih lembap. Aku mematut diri lama. Lama… sampai kakiku mati rasa.

Kulangkahkan perlahan bersama sebuah kekakuan. Aku melihatnya dari cermin. Ayah!

Ayah menatap bayanganku di dalam cermin, aku balik menatapnya dengan lemas. Ia memberikan simbol dengan tangan kirinya, mengangguk, lalu menutup pintu dan menghilang. Aku mundur perlahan, tak ingin bayangku merengkuh diriku lebih jauh dan menggiringku pada ketiadaan harapan. Aku tinggalkan ruangan yang mengekang. Tak lupa kukunci agar tak ada orang yang mengobrak-abrik ruangan kelam tempatku mencumbu kesepian.

“Aku akan kembali”.

Kembali. Kembali. Sebuah kembali yang ganda menjanjikan harapan yang jelas nyata. Tapi bukan ingin hati kecilku. Aku tahu itu dari air mata yang masih bisa terurai. Kemudian aku kembali mendatangi hujan yang menghampiri.

“Arghhh!”

***

Kulihat punggung Ibu membelakangi meja gambarnya. Tegap, kaku, tenang. Blus birunya bermodel setengah terbuka di punggung. Kulit langsatnya, memecah arah ketenangan kepada panik masa lalu. Masih sakit ketika terlintas malam kelam, hanya aku, ibu, dan ayah.

Kuhampiri Ibu yang tekun menatap meja gambarnya. Tak mengggambar apapun. Hanya tepekur sendirian. Ibu menyadari langkah kakiku yang ragu dan menengok padaku. Tersenyum. Ayah entah kemana. Mungkin menyendiri di kamar baca pribadinya.

Tatapan mata Ibu seolah rindu tapi tak ingin aku mendekat. Ada pengusiran yang terpancar dari balik lensa kacamatanya. Aku menelan ludah dan membalikkan badan. Kutatap lukisan sebuah rumah besar menggantung di dinding.

Rumah Ayah.

Putih besar berlantai dua. Berpekarangan sederhana berumput hijau layu. Biasanya, aku sendiri menyebutnya istana. Sementara rumah Ibu adalah penjara. Berlantai marmer dan berperabot kaca. Dialasi permadani-permadani hangat dan tebal, impor langsung dari negeri-negeri kapitalis. Penjabaran tadi sebetulnya tak pernah kulihat dengan mataku sendiri. Hanya dari gambar dan cerita-cerita.

Lalu aku menuju ruang keluarga. Aku kadang heran bagaimana nama sebuah ruangan bisa begitu manis dan utopis. Duduk di atas sofa empuk berwarna gading. Mungkin belum saatnya. Mungkin aku terlalu tergesa. Televisi raksasa di hadapanku tak bersuara.

“Sedang apa, Nak?”

Suara perempuan yang dulu paling kukagumi menyapa dengan manis. Dia menghampiri dan kukira akan memanggilku. Ternyata aku salah.

“Jangan duduk di sini. Pergilah. Giliranmu bukan malam ini.”

Bukan? Oh, aku salah perhitungan.

Aku menurut. Melangkahkan kaki kaku ke ruangku. Lalu merebah dan beradu. Beradu dengan langit-langit yang menatapku takzim.

***

Tembok runtuh. Genteng hancur. Pondasi tinggal kerangkanya belaka. Debu membuat udara menjadi kelabu, pasir beterbangan memedihkan mata. Di tengah-tengah, bongkahannya terlihat tidak lebih ramah, malah ada bau nanah yang menguar. Ada darah juga di sana. Rumah berlantai dua dengan pekarangan sederhana dan rumput layu itu lebur bersama kenangan yang ikut hancur. Rata dengan tanah tempat berpulang yang tenang.

Aku, Ibu, dan Ayah, berdiri berdampingan. Ibu memegang gulungan kertas kalkir di tangan kanannya, ayah memegang tali tambang. Kami bertiga tak bergeming menatap nasib bangunan yang ada di depan kami. Saat itu aku melihat bibir ibu sedikit tersungging. Kami akan pindah istananya yang bagiku penjara.

Kulihat Ayah bergeser ke belakang aku dan ibuku. Kerikil di bawah kakinya bergesek dan menimbulkan bunyi yang cukup mengganggu. Laksana guntur yang datang tiba-tiba, terdengarlah bunyi cambuk dan teriakan yang memekakkan. Aku terpaku dan termangu. Ayahku mencambuk punggung Ibu.

Ada kepuasan yang membuncah datang dari sekujur tubuhku. Kulihat Ayah tersenyum ke arahku, seperti mengatakan, “semua ini kulakukan untukmu.”

Raungan Ibu tak hanya berhenti di situ. Cambukan Ayah, yang diiringi desah dari mulutku, tak berhenti dalam satu waktu. Lagi, lagi, dan lagi, hingga blus biru setengah terbuka yang dipakai Ibu menampakkan bekas cambuk yang membentuk huruf S. S seperti dalam kata setan. S seperti dalam kata suram. Namun juga seperti S dalam kata sayang.

Darah mengalir dari bekas luka itu. Ayah mendekat ke belakang tubuh Ibu. Dihirupnya bau anyir darah yang kental dan merah. Dicungkilnya daging dalam luka itu, dan dilumurinya telunjuk jari dengan darah yang masih segar. Dengan takjub kusaksikan, ayah menjilatinya bagai anjing yang sedang kehausan.

Mata Ayah semakin menyala. Seolah-olah, daging yang ia cukil dan darah yang ia sesap telah memberikannya energi yang semakin membara. Belum selesai aku merasa takjub, Ayah memeluk pinggul Ibu dari belakang. Diputarnya tubuh ibu untuk berdansa sambil berdendang dengan mulutnya yang bernoda. Ayah menyanyikan lagu Sayonara, dan aku bertepuk tangan sesuai irama. Mata ibu membelalak, mulutnya menganga, tubuhnya lemas.

Di akhir lagu, tanpa ragu-ragu, Ayah mengalungkan tali tambang di leher ibu, seperti kekasih yang baru berbulan madu. Ayah mencium bibir Ibu yang menganga dengan gemas sambil meremas bekas luka di bukaan punggung blusnya. Ibu mengerang… Entah erang kesakitan atau erang kenikmatan.

Ayah merapikan tali tambang yang ia kalungkan di leher Ibu dengan manja, persis seperti ketika Ibu membenarkan kerah bajuku di malam yang ia bilang belum jadi giliranku. Dikencangkannya tali itu, hingga Ibu tersedak dan matanya membelalak. Kuhampiri kertas kalkir yang jatuh dekat kaki Ibu. Bentuknya masih utuh dan baru. Cukup sudah, pikirku. Aku berlalu.

Sayonara, Ibu.

Jakarta, Depok – 14, 29 September 2013

Agustina Pringganti, Dinda Larasati, Ananda Putri

Iklan

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kalkir at Elastisitas Kata.

meta

%d blogger menyukai ini: