Tinggal

05/02/2014 § Tinggalkan komentar

1.

Di atas kayu reyot tak berpenghuni, kutatap langit dengan syahdu. Kepada awan, kepada langit. Dan kepada bulan yang hanya ada satu.

Mengapa tak ada naungan di atas kepalaku?

Tiada teduh kurasa ketika langit begitu terik. Rasanya dingin dan menggigil, ketika hujan membanjiri bumi.

Sambil menahan perih, kubuat pancang di lengkung senyumku. Biar ia tak jatuh dari atas dagu, yang telah basah dengan merah pekat darah. Kucoba memeluk diri dengan kedua tangan. Jarinya pucat dan biru, seperti milik Bapak ketika pergi dua tahun yang lalu. Dan aku tersentak senang, ketika tetes hujan datang dengan ramah, bersama hangat mentari pagi yang mengecup kulit tubuhku. Dalam resah dan gelisah ini, inilah yang selalu aku tunggu: basuhan pilu yang sederhana dan tak bisa diduga-duga datangnya.

Tetes air ini… bukankah rasanya begitu menyegarkan? Dibandingkan bara api yang selalu aku jaga di dalam mangkuk pemberian Mama. Yang kadang nyala, kadang redup.. Hingga tak semua orang dapat melihat perciknya, ataupun nyala apinya. Ah, aku dengan baraku itu. Membuat nyala untuk diri sendiri saja tak mampu, bagaimana bisa memberikan hangat untuk sekitarku?

 

2.

I testify: I am powerless

Aku bersaksi bahwa aku tidaklah berdaya

Di tengah tuntutan dan segala tudingan

Di dalam hiruk pikuk yang melelahkan

Serta peluh yang gulirnya berkejar-kejaran

Tubuh ini tak lagi mampu menghadapi waktu

Aku selalu berkata pada hati kecilku

Jadilah jujur, jangan membentengi diri

Jadilah orang yang selalu punya hal untuk dibagi kepada orang lain

Namun ingat,

simpanlah beberapa untuk tidak dibagi

Agar kelak, tak menjadi asing bagi diri sendiri

 

3.

Kudengar desah upaya mereka yang terus memompa kehidupan.

Mereka masih saling menggenggam, mereka terus lantangkan impian!

Di situ ada harap, di situ ada jerih yang terpahat.

Merasuk, mengendap, dan meresap hingga meninggalkan asap. Mati rasa. Hingga aku lupa sudah menampung seberapa banyak.

Di dalam lapis yang begitu tipis, kutemukan debar yang berirama dengan sembarang

Detak jantungku

Detak yang memulai kehidupanku

Detak yang juga akan mengakhiri riwayatku

Meski iramanya tak merdu, kudengarkan ia bersenandung:

Aku masih ada

Aku masih hidup

Sebagai manusia di bumi manusia

sebagai pemuda di zamrud khatulistiwa

Kita hanya tengah merasakan derita

 

Aku ingin hidup

Menghidupi kehidupan yang menghidupkan

Aku ingin berjuang

Seperti pemuda yang selalu memiliki harapan

 

4.

Aku tidak punya apa-apa

Aku tidak pernah memiliki apa-apa

Tapi mengapa aku terus merasa kehilangan?

 

5.

Aku masih berdiri di sini

Tak melangkah, tak menerjang, tak juga bertahan

Aku percaya, diri ini tidak sendiri

Tapi siapa kah yang menemani?

Apakah tak sendiri, artinya ada yang selalu mendampingi?

Aku menoleh dan menggapai sekitarku

Hanya ada udara yang terkoyak dengan sia-sia

Dia tiada bentuk. Dia tiada warna.

Namun bisa aku rasakan dengan mata tertutup penuh, sambil menggumamkan soneta yang memenuhi masa kecilku.

Dan persoalan yang datang dini hari tadi, menimangku dalam seayun tanda tanya buram:

Bukankah meninggalkan terasa lebih menenangkan daripada ditinggalkan?

 

Marmer 111213

18:54

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tinggal at Elastisitas Kata.

meta

%d blogger menyukai ini: