Tentang Kopi, Rokok, dan Alkohol

05/02/2014 § Tinggalkan komentar

Aku tidak minum kopi. Tidak merokok. Tidak mengonsumsi alkohol.

Beberapa teman bilang aku begitu malang, yang lainnya tuduh aku mudah patah arang.

Aku berisiko jika minum kopi. Satu hari, lidahku bentol-bentol, tenggorokanku perih dan gatal-gatal. Dokter bilang aku alergi kopi, dan ia beri aku obat sirup yang rasanya seperti apel. Hanya beberapa jam kemudian bentolnya meluruh tak bersisa.

Beberapa tahun kemudian, aku mencoba mengalahkan alergiku dengan berlatih minum kopi. Hanya dua hari berturut saja, aku langsung pendarahan lambung hingga tak mampu bergeser dari posisi telungkup karena sakitnya membuat tubuhku seolah lumpuh.

Pedih dan nyeri. Uh.

Maka aku menyerah, dan berhenti mengonsumsi segala yang mengandung kopi. Entah itu minuman atau kembang gula dan roti isi.

Lantas, apa aku juga alergi rokok? Tanya beberapa teman.

Bapakku berhenti merokok sejak lama. Aku tak ingat kapan tepatnya, mungkin ketika aku masih berseragam putih biru tingkat dua. Sejak itu rumah kami bebas asap rokok dan aku jadi terbiasa bernapas dengan lega, meski beberapa tamu datang dan kadang berbincang sambil membakar beberapa batang di teras rumah atau ruang tamu. Selama di SMA, aku pun malas berlama-lama dengan orang yang menghirup-hembuskan asap rokok ke mana-mana. Kakakku yang lelaki itu juga tidak merokok, kendati suatu hari temannya bilang ia pernah mencobanya sekali di kampus dan tidak diteruskan lagi.

Masuk ke kehidupan kampus dalam universitas besar ini, asap rokok ternyata sama sekali tak bisa dihindari. Pada mulanya aku selalu angkat kaki ketika inderaku mulai mendeteksi bau asap rokok, dengan perasaan dongkol yang hanya ditahan-tahan dalam hati. Aku kesal, karena ketika bernapas aku dapat merasakan tenggorokanku memanas dan mencecap jejak asap rokok di saluran pernapasanku yang jelas-jelas sama sekali bukan milikku.

Ala bisa karena terbiasa, aku kembali adaptif dengan asap-asap yang sesungguhnya dapat membinasakan teman-teman terkasihku itu (sekaligus aku yang pasif ini), meski aroma beberapa merk – ajaibnya – tidak mengganggu kenyamananku sama sekali, dan (malangnya) mulai bisa aku nikmati juga (aduh).

Tapi, karena pada dasarnya aku ini bergolongan darah AB yang – kata buku-buku kesehatan – selalu saja punya penyakit unik, ada sesuatu dari rokok yang bikin aku jadi alergi juga. Bau yang menguar dari rokok yang belum dibakar, apalagi dari kotaknya yang diletakkan sembarang, seringkali membuat hidungku gatal-gatal.

Oke. Alkohol.

Tidak minum karena dilarang agama, ya? Tebak beberapa teman.

Sebetulnya, masalah konsumsi kedua benda sebelumnya, tidak hanya disebabkan oleh penolakan dari tubuhku, tapi juga sikap yang aku bentuk sejak lama. Sayangnya, sikap itu tak begitu tegas dalam kehidupan sehari-hari. Kalau merujuk pada salah satu teori dalam psikologi, aku ini tidak mampu membenahi Cognitive Dissonance dalam perkara rokok-alkohol ini.

Ketidakinginanku terhadap rokok kurang lebih sama dengan alkohol. Untuk apa aku mengonsumsi alkohol? Minum alkohol tapi tidak sampai mabuk adalah sia-sia di mataku. Sama saja seperti minum air mineral yang pada akhirnya akan dibuang melalui urin. Bedanya, air alkohol punya kemampuan destruktif yang tentatif terhadap tubuh. Aku juga tidak suka dengan aroma yang menguar dari berbagai jenis minuman alkohol; lebih tercium seperti nanah, busuk, dan memuakkan.

Sampai saat ini, aku belum pernah meminumnya sekalipun, meski pernah pada suatu hari aku berkata pada seorang teman yang sedang mabuk – entah dia masih mengingatnya atau tidak – aku ingin pengalaman mabuk pertamaku dilakukan bersama seorang yang benar-benar spesial bagiku. Well, kalau diingat-ingat, itu hanya berakhir jadi sekadar ucap karena aku tetap tak yakin ingin merasakan mabuk hanya karena sebotol minuman meski ditemani orang yang paling spesial.

Malang boleh dikata, tapi tak ada rugi yang aku rasa.

Aku sama sekali tidak iri. Aku juga tidak berhasrat mengonsumsinya di atas ketidakberdayaan yang aku punya. Aku sama sekali tidak memerlukan ketiga benda tadi sebagai alat bantu dalam hidupku. Meski aku harus melewatkan kesempatan untuk menikmati citarasanya.

Aku selalu mampu menjaga terang mata dan rasa awas tanpa harus minum kopi seharian. Aku tidak perlu rokok untuk memecahkan perkara yang selalu bisa datang kapan saja. Aku tidak perlu alkohol untuk membantuku dalam pelarian demi melepas kelegaan.

Dan aku selalu punya hal-hal lain yang nikmatnya kurang lebih sama, dengan manfaat yang – mungkin – jauh lebih menyenangkan.

Ketika aku penat, aku akan mencari es krim dengan varian rasa yang cocok dengan emosi yang sedang kurasakan. Jika lelah aku akan mencari rasa vanila, saat senang aku akan menjilat rasa stroberi, dan di kala sedih aku akan mencecap rasa jeruk atau coklat. Kadang aku memilih rasa buah yang segar-segar ketika hari terasa begitu terik dan menyengat.

Di kampus, jika aku butuh kesegaran, aku akan membeli segelas penuh jus pisang-stroberi dan menikmatinya di Takor sambil bergurau bersama teman-teman. Atau, aku akan ke Kedai Lentera, memesan minuman coklat ternikmat yang pernah aku rasakan sensasinya.

Ada banyak konsumsi yang membuatku senang, dan perlu kuberitahu kalau aku sama sekali tidak ketergantungan dengan alternatif-alternatif yang kusebut barusan.

Mengenai rokok… well, kuakui bahwa barang yang satu ini memang begitu hebat dalam merekatkan hubungan antar manusia. Ia dihisap ketika melingkar bersama, ia dihembuskan dalam sunyi sendiri. Orang bisa terkoneksi dengan begitu kuat hanya karena membakar sebatang dua batang sambil duduk berdampingan. Bahkan, ketika bosan dan tak ada kerjaan, sekotak rokok seolah jadi pendamping paling setia dalam kehampaan.

Tapi, aku tetap tidak menyukai asap rokok, dan bukan berarti aku lantas tidak suka pula pada subjeknya. Aku bukanlah seorang anti-rokok dan mendukung penuh program KTR sambil bersabda bahwa rokok adalah barang yang berbahaya. Tidak, tidak.

Aku hanya akan tersenyum sambil menatap temanku yang bisa tampak lebih tenang hanya dengan menghisap beberapa batang rokok.

Entah kenapa, menyaksikan hal ini turut membuatku merasakan nikmatnya rokok-rokok yang mereka hisap di dalam diam atau di antara gelak tawa ketika sedang duduk bersama-sama.

Indonesia Nation Building Corner, 41213

Iklan

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Kopi, Rokok, dan Alkohol at Elastisitas Kata.

meta

%d blogger menyukai ini: