Refleksi Diri

05/02/2014 § Tinggalkan komentar

Aku teringat dekonstruksi Derrida.

Tak ada kebenaran tunggal, yang ada hanyalah potongan-potongan kebenaran. Manusia kemudian berupaya mengumpulkan potongan-potongan itu.

Lalu aku menatap cermin. Cermin fana yang ada di dalam benakku saja. Cermin refleksi diri.

They present to me the mirror and the mirror doesn’t reflect me.

It reflects the light.

That’s why we need to open the window.

Semakin banyak cahaya yang ada, semakin banyak yang dapat dilihat.

Kadar cahaya yang ada tentunya berbeda pada setiap jendela yang dimaksud oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham dalam konsep psikologi yang mereka namakan sebagai Johari Window.

Cahaya itu bisa saja menampakkan bentuk yang berbeda pada setiap bagian, sadar tidak sadar.

Pantulan cahaya yang ada di setiap jendela itulah yang coba manusia kumpulkan, hingga menampilkan sebuah sosok yang terbentuk di depan cermin.

Dari mana asalnya cahaya?

Scientifically, cahaya adalah gelombang elektromagnetik kasat mata.

 ***

After all, I see what I want to see.

Once in a while I get trapped by what I believe.

Remember, we can’t go faster than light. 

***

Kedai Lentera 522014

18:59

Iklan

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Refleksi Diri at Elastisitas Kata.

meta

%d blogger menyukai ini: