Percaya dan Nafsu

05/02/2014 § Tinggalkan komentar

Berbulan-bulan aku menaruh kepercayaan pada sesuatu yang dijanjikan. Menjadikannya pakaian yang kusandang saat berjalan, biar terlindung dari tatap binatang jalang yang tak paham kesopanan. Setiap serat yang menyentuh kulitku terasa lengket dan lembap.

Di sebuah kelokan sebelum jembatan membentang, seekor serigala menjebak langkahku. Dikoyaknya pakaianku dengan teliti. Tak ada segores luka yang tertinggal, hanya tetes-tetes saliva yang membasuh bekas luka masa lalu. Sang serigala melenggang pergi. Tanpa aungan, tanpa lolongan. Hilang di balik rerumputan.

Aku bernafas terengah. Menggigil. Merintih. Seisi hutan kini dapat melihatku telanjang. Tubuhku terungkap seluruh, tak elok dipandang meski lekuknya mampu menggetarkan hawa.

Berdirilah aku, seonggok sampah visual yang menguarkan aroma tak sedap.

Bahkan serigala hanya tertarik pada pakaian yang aku kenakan.

Aku tak lagi sejelita puisi yang dulu kau selipkan diam-diam pada halaman buku yang tengah kubaca.

Dalam ketelanjangan ini, masihkah nafsumu memburu aku?

***

Kedai Lentera 522014

19:44

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Percaya dan Nafsu at Elastisitas Kata.

meta

%d blogger menyukai ini: